PERAN PEMERIKSAAN HbA1c DALAM PENENTUAN DAN PEMANTAUAN PENYAKIT DIABETES

Diabetes Mellitus  di Indonesia saat ini sebesar 10,9%. Indonesia menduduki urutan ke-7 dari 10 negara dengan penderita diabetes tertinggi di dunia. Prevalensi tersebut akan terus meningkat bila tidak ada upaya pencegahan dan program pengendalian yang efektif.

Diabetes Mellitus merupakan salah satu penyakit underdiagnosed. Saat diagnosis ditegakkan, sekitar 25% sudah terjadi komplikasi mikrovaskuler. Untuk menegakkan diagnosis seseorang terkena diabetes mellitus atau tidak, maka dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium sebagai berikut :

  1. Gula darah puasa
  2. Gula darah 2 jam setelah konsumsi glukosa 75 gram
  3. HbA1c

Pemeriksaan HbA1c adalah pemeriksaan dengan mengukur kadar atau prosentase glukosa yang terikat dengan hemoglobin. Hemoglobin adalah protein pembawa oksigen yang terletak dalam sel darah merah. Pemeriksaan ini tergantung dari kadar glukosa dan jumlah serta umur sel darah merah. Rata-rata umur sel darah merah sekitar 120 hari. Jadi pemeriksaan HbA1c ini dapat memperkirakan kadar rata-rata gula darah dalam 3 bulan terakhir.

Perbedaan pemeriksaan HbA1c dan pemeriksaan gula darah :

Keduanya mengukur hal yang berbeda. Pada tes gula darah biasa, yang diukur adalah kadar gula darah saat itu juga. Kadar gula darah bisa berubah-ubah sepanjang hari, tergantung makanan atau minuman yang dikonsumsi saat itu. Hasil pemeriksaan HbA1c tidak akan terlalu terpengaruh oleh asupan makanan pada saat pemeriksaan sehingga tidak perlu persiapan khusus seperti puasa. Jika pada hari pemeriksaan HbA1c, pasien sengaja tidak makan gula tetapi di hari-hari sebelumnya mengonsumsi banyak gula, maka hasil HbA1c-nya akan tetap tinggi. Sedangkan jika strategi ini dilakukan pada tes gula darah biasa maka hasilnya akan terbaca normal bahkan rendah

Tujuan atau manfaat dilakukan pemeriksaan HbA1c :

Karena dapat menggambarkan rata-rata kadar gula darah dalam 3 bulan terakhir maka manfaatnya adalah untuk mengontrol kualitas pengendalian kadar gula darah jangka panjang dan menilai efektifitas obat.  Dengan kata lain untuk memantau kepatuhan penderita diabetes minum obat dan kepatuhan menjalankan pola hidup sehat.  Akan tetapi sekarang penggunaannya sudah lebih luas lagi yaitu untuk  menegakkan diagnosis atau skrining Diabetes Mellitus khusunya DM tipe-2.

Berikut   kadar normal HbA1c

HbA1c (%)Glukosa darah puasa (mg/dL)Glukosa darah 2 jam setelah minum glukosa 75 gram
DIABETES≥ 6,5≥126≥ 200
PREDIABETES5,7 – 6,4100 – 125140 – 199
NORMAL< 5,7< 100< 140

Prosedur pemeriksaan HbA1c :

Dapat dilakukan sewaktu-waktu, tidak perlu persiapan khusus misalnya puasa. Bahan pemeriksaan berupa darah yang diambil dari pembuluh darah vena (biasanya di lengan) atau pembuluh darah kapiler di ujung jari.

 Kelebihan pemeriksaan HbA1c :

  1. Tidak perlu puasa dan dapat diperiksa kapan saja
  2. Dapat memperkirakan keadaan glukosa darah dalam waktu yang lebih lama serta tidak dipengaruhi perubahan gaya hidup jangka pendek
  3. Kadar glukosa yang menempel pada hemoglobin sangat stabil, sehingga HbA1c dijadikan salah satu parameter diabetes mellitus di seluruh dunia
  4. Relatif tidak dipengaruhi oleh gangguan akut seperti stress atau penyakit terkait
  5. Lebih stabil dalam suhu kamar dibanding glukosa plasma
  6. Lebih direkomendasi untuk monitoring pengendalian glukosa
  7. Kadar HbA1c sangat berkorelasi dengan komplikasi diabetes

Keterbatasan pemeriksaan HbA1c ::

  1. Terganggu oleh kondisi terdapat penyakit hemoglobin
  2. Terpengaruh oleh kondisi seperti anemia hemolitik, malaria kronis, perdarahan, anemia aplastic

Alasan  pemeriksaan HbA1c penting  dilakukan :

  1. Untuk mengidentifikasi kondisi prediabetes supaya tidak jatuh menjadi diabetes
  2. Menegakkan diagnosis diabetes
  3. Melihat efektifitas terapi dalam menurunkan kadar gula darah
  4. Menilai kepatuhan penderita minum obat dan penerapan pola hidup sehat

Pengertian prediabetes :

Prediabetes adalah kondisi ketika kadar gula dalam darah sudah melebihi batas normal, tetapi belum cukup tinggi untuk dikategorikan sebagai diabetes.

Alasan  kondisi prediabetes menjadi sesuatu hal penting untuk diperhatikan:

Prediabetes berpotensi meningkatkan risiko menjadi diabetes mellitus sebesar 2-10 kali lipat dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun. Risiko terjadinya penyakit jantung pada prediabetes sama besarnya dengan DM. Karena itu tindakan-tindakan dan program pencegahan dini DM sangat diperlukan antara lain melalui penanganan prediabetes. Identifikasi dan penatalaksanaan awal bagi pasien prediabetes dapat menurunkan insiden DM serta komplikasinya.

Tanda-tanda dan gejala prediabetes:

Dalam kebanyakan kasus, tidak ada tanda-tanda dan gejala yang jelas. Kebanyakan orang yang memiliki kondisi ini bahkan tidak mengalami keluhan kesehatan sama sekali. Namun banyak orang yang didiagnosa prediabetes merasakan tanda-tanda atau gejala sebagai berikut:

  • Sering haus
  • Sering buang air kecil
  • Sering merasa cepat Lelah
  • Penglihatan buram
  • Kulit menggelap di leher, ketiak, siku, lutut dan buku-buku jari
  • Nyeri persendian, otot dan tulang

Faktor risiko prediabetes:

Faktor risiko terjadinya prediabetes sama dengan faktor risiko DM tipe 2, dapat dialami oleh siapapun. Akan tetapi ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang menderita prediabetes, yaitu :

  • Memiliki riwayat prediabetes atau diabetes dalam keluarga
  • Memiliki berat badan yang berlebihan/obesitas
  • Usia di atas 45 tahun
  • Menderita diabetes saat kehamilan (diabetes gestasional)
  • Menderita PCOS
  • Menderita hipertensi
  • Menderita kholesterol tinggi
  • Mengonsumsi terlalu banyak soda, makanan kemasan, daging merah dan minuman manis
  • Memiliki kebiasaan merokok
  • Kurang berolahraga atau melakukan aktivitas fisik

International Expert Committee menyatakan bahwa seseorang dengan nilai HbA1c rendah bukan berarti tidak berisiko diabetes, namun lebih tepat disebut berisiko rendah. Orang yang berisiko tinggi terkena diabetes dianjurkan mengurangi berat badan dan olah raga teratur.

Rekomendasi International Expert Committee (2009) tentang peranan HbA1c dalam diagnosis dan identifikasi individu risiko tinggi :

  • HbA1c merupakan pemeriksaan yang akurat dan tepat dalam mengukur kadar gula darah yang kronis serta berkorelasi positif dengan terjadinya risiko komplikasi diabetes
  • HbA1c memiliki beberapa kelebihan dibandingkan glukosa plasma
  • Diagnosis ditegakkan jika nilai HbA1c ≥ 6,5%. Diagnosis sebaiknya dikonfirmasi dengan pengulangan pemeriksaan HbA1c. Konfirmasi tidak perlu bagi seseorang yang menunjukkan gejala dengan kadar glukosa plasma > 200 mg/dL
  • Jika HbA1c tidak memungkinkan untuk dilakukan, maka dapat dilakukan pemeriksaan glukosa puasa dan 2 jam PP
  • Pemeriksaan HbA1c dapat diindikasikan pada anak dengan suspek diabetes namun tidak didapati adanya gejala klasik dan memiliki kadar glukosa ≤ 200 mg/dL
  • Kadar HbA1c 6,4% diduga lebih berisiko berkembang menjadi diabetes, tergantung pada factor risiko diabetes lainnya. Oleh sebab itu lebih baik melakukan usaha pencegahan.

Kegiatan Edukasi Kesehatan RSUD Hj. Anna  Lasmanah Banjarnegara  dengan Narasumber : dr. Trinovia Andayaningsih, M.Sc. Sp. PK

 

Mungkin Anda juga menyukai